Rupiah yang Menguat atau Dollar yang Melemah?

Rupiah vs dollar (sumber:rmol.co)
Nilai mata uang Rupiah pada awal agustus-september sempat loyo dalam menghadapi tekanan dollar oleh kebijakan bank amerika dan juga sedikit terpengaruh devaluasi yuan sempat menyentuh Rp. 14.700 per dollar.

Namun pada awal oktober kemarin Rupiah mendadak menguat hingga kini sabtu (10/10/15) bernilai Rp. 13.400 per Dollar US.
Banyak definisi yang beredar, salah satunya adalah paket kebijakan ekonomi jilid 3 dinilai yang paling signifikan. seperti dilansir detik.com Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia (BI) kemarin meluncurkan paket kebijakan ekonomi jilid III. Paket kebijakan tersebut dinilai lebih fokus menyasar ke berbagai sektor.

"Paket ekonomi ini cukup memberi semangat. Pemerintah kelihatan lebih fokus mendorong ekspor, industri manufaktur, UMKM, dan industri kreatif," kata Ekonom Bank Danamon, Dian Ayu Yustina dalam risetnya, Kamis (8/10/2015).

Menurutnya, koordinasi antara Pemerintah yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan OJK dan BI sudah semakin baik sehingga menghasilkan kebijakan yang saling berkesinambungan.

"Ada koordinasi yang lebih baik dari OJK, BI dan Pemerintah untuk menghasilkan kebijakan yang selaras di sektor-sektor tersebut," ungkapnya.

Sebenarnya yang menguat Rupiah atau Dollar yang melemah? karena hal tersebut bebarengan dengan beberapa hari diumumkan paket kebijakan ekonomi pemerintah.

Analis pasar uang Bank Mandiri Reny Eka Putri menilai, faktor utama penguatan rupiah adalah otot dollar AS yang sedang loyo. Pasar berspekulasi The Fed tak akan mengerek suku bunga tahun ini akibat data ekonomi Paman Sam kurang gereget.
Goldman Sachs pun memprediksikan kenaikan suku bunga AS bisa tertunda hingga tahun depan. Efeknya, pelaku pasar mengambil untung dengan melepas dollar. "Ini menguntungkan mata uang di  Asia, termasuk rupiah," ungkap Reny, kemarin.
Sentimen dari AS itulah yang  lebih dominan ketimbang faktor dalam negeri. Lihat saja, upaya Bank Indonesia (BI) yang terus menggelar operasi pasar di pasar spot dan forward (berjangka) selama September lalu belum mampu mengangkat rupiah dan hanya menahan kejatuhan rupiah lebih dalam. Padahal sepanjang bulan lalu, cadangan devisa Indonesia susut  3,6 miliar dollar AS dan kini  tersisa 101,7 miliar dollar AS.
Toh, dalam jangka pendek, peluang penguatan rupiah masih terbuka. Apalagi pemodal asing masuk lagi ke pasar saham. Empat hari terakhir, asing mencatatkan pembelian bersih senilai Rp 1,46 triliun.
Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto, menambahkan, paket ekonomi jilid I hingga III memang memberi sentimen positif di pasar keuangan. "Sehingga dana asing kembali ke Indonesia dan rupiah menguat," ujarnya.
 

1 Response to "Rupiah yang Menguat atau Dollar yang Melemah?"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel